Senin, 14 September 2009

Rujak Ciherang


MENYANTAP rujak Ciherang dijamin tak sakit perut dan mual. Ini bukan promosi. Tetapi, begitulah pengakuan para penggemar rujak asal Kampung Ciherang, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, tersebut.

Rujak Ciherang tetap bersahabat dengan perut meski sedang berpuasa. Tak salah jika rujak ini dijadikan menu berbuka puasa. Kendati seharian perut kosong, rasa nikmat yang didapat. Bahkan, bikin ketagihan karena "sihir" aroma honje atau kecombrang.

Bumbunya yang kental, dibuat dari bahan-bahan alami seperti gula aren, cabai kering, garam, asam jawa, dan tentunya honje, hmm... rujak Ciherang makin membangkitkan nafsu makan.

"Yang menjadikan rujak Ciherang beda dengan lainnya adalah aromanya yang khas. Aroma itu berasal dari honje. Selain itu bumbu rujaknya bisa tahan hingga tiga bulan," kata Asep Rosadi (45), pemilik usaha rusak Ciehrang, kepada Tribun, Sabtu (12/9).

Asep menjelaskan, rujak Ciherang tahan lama karena bumbunya dari bahan- bahan alami. "Tak ada bahan pengawetnya," ujarnya.

Sama dengan rujak umumnya, setiap porsi rujak Ciherang terdiri atas irisan jambu air, mangga muda, bengkoang, kedondong, nanas, dan mentimun. Yang berbeda hanya bumbunya.

Asep membanderol hanya Rp 5 ribu per porsi. Jika membeli bumbunya saja, harganya Rp 18 ribu per botol.

Nina (40), seorang pelanggan, mengaku sengaja datang dari Soreang hanya untuk membeli rujak Ciherang. Alasannya, hampir seluruh anggota keluarganya sangat menyukainya.

"Walaupun puasa, setelah makan nasi, sangat cocok jika dilanjutkan makan rujak Ciherang. Rasanya sangat enak. Aromanya juga khas," ucap dia, sambil membawa beberapa botol bumbu rujak Ciherang.

Asep menuturkan, rujak Ciherang merupakan warisan turun-temurun keluarganya. Ia adalah generasi keempat dari Mak Empeh, sang pionir usaha rujak Ciherang.

Mak Empeh, kata Asep, menjajakan rujak berkeliling dengan menggunakan bakul sejak 1925. Menurut ayah tiga anak ini, hingga sekarang usaha keluargnya itu telah memiliki tiga cabang. Masing-masing di Warung Lobak Katapang, Ciwidey, dan Banjaran.

Jika musim haji, ungkap Asep, permintaan bumbu rujak Ciherang meningkat hingga mencapai tiga kuintal. Bumbu rujak yang awet ini dibawa ke Tanah Suci.

"Kalau menurut pengalaman para jemaah haji atau umrah, campuran buah yang dimakan bersama bumbu rujak Ciherang ini bukan mangga atau nanas, melainkan apel," kata Asep seraya menyebutkan omzet rujak Ciherang mencapai Rp 30 juta per bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar